Breaking News

Kecerdasan Buatan dan Dampaknya Terhadap Layanan Asuransi di Indonesia


Percepatan digitalisasi yang berlangsung selama wabah COVID-19 telah mendorong berbagai perusahaan bertransformasi ke ranah digital. Termasuk di antaranya penyedia asuransi Indonesia terbaik yang layanannya semakin diperlukan masyarakat luas. Dalam hal ini, pengenalan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan terus digencarkan untuk menunjangnya.

Kecerdasan buatan untuk layanan asuransi

M. Tesar Sandikapura, Ketua Bidang Aplikasi Nasional Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan memberikan manfaat lebih kepada calon nasabah. Pasalnya, teknologi ini mampu meniru perilaku manusia seperti mendengar dan menyerap informasi yang akan dipelajari. Tak menutup kemungkinan pekerjaan agen asuransi nanti digantikan dengan kecerdasan buatan ini.

Optimisme penerapan kecerdasan buatan ini di Indonesia tak terlepas dari pertumbuhan jumlah pengguna yang signifikan. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari We Are Social dan Hootsuite, jumlah pengguna internet di Tanah Air per Januari 2021 sudah mencapai 202,6 juta orang atau naik 15,5% dibandingkan tahun lalu. Sebagai perbandingan, jumlah pengguna internet sepanjang 2017-2018 berada di kisaran 132,7 juta orang dan naik jadi 175,4 juta orang pada tahun 2019.

Salah satu faktor terkuat yang mendukung pertumbuhan pengguna internet adalah masifnya aktivitas masyarakat di dunia maya. Kemunculan berbagai aplikasi memudahkan mereka untuk berkomunikasi hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga kemungkinan seperti membeli produk asuransi dan membayar premi di internet bisa saja terjadi jika perusahaan asuransi mampu mengelola kecerdasan buatan dengan baik.

Solusi untuk krisis yang akan muncul di masa depan

Sebenarnya, saat ini sebagian besar perusahaan asuransi sudah memakai kecerdasan buatan. Namun, teknologi yang digunakan sifatnya masih basic. Kebanyakan nasabah masih harus memasukkan data secara manual dengan mengetik atau menyebutkan informasi yang diminta.

Oleh karena itu, pengembangan kecerdasan buatan harus diperhatikan lebih serius supaya perusahaan maupun nasabah dapat menikmati layanan lebih praktis. Sebagai contoh, data-data nasabah yang nanti dikelola teknologi lebih canggih dapat dimanfaatkan untuk mengatur pembayaran premi hingga penyaluran pinjaman. Perusahaan pun akan menerima laporan yang lebih akurat dalam waktu yang cepat dan secara real-time.

Kehadiran kecerdasan buatan di perusahaan asuransi bisa dijadikan solusi untuk menghadapi krisis lain di masa depan. Prashant Saxena, selaku Head of Insights SEA Isentia menyebutkan bahwa masa krisis seperti pandemi yang sudah berlangsung selama setahun semestinya dijadikan pembelajaran bagi perusahaan asuransi untuk menghadapi risiko yang lebih besar melalui kecerdasan buatan.

Perusahaan diharapkan mampu menganalisis dampak yang ditimbulkan untuk kemudian mencari solusinya. Selain sebagai bagian dari penyelesaian, solusi yang diperoleh lewat kecerasan buatan pun dapat menjadi sebuah inovasi. Jadi, perusahaan mampu melayani nasabah secara maksimal dan menciptakan teknologi yang bermanfaat untuk masyarakat luas.

Tidak ada komentar